NINI THOWONG
SINOPSIS
Nini Thowong berdiri sejak tahun 1938, yang dimainkan dan diciptakan oleh nenek moyang kami: Udisedo, Marto Jumar, dan Paerah, sehingga menjadi kesenian yang sangat sederhana sampai tahun 1942 (jaman penjajahan jepang). Pada masa itu kesenian Nini Thowong terhenti. Sekitar tahun 1960 kesenian Nini Thowong digugah lagi dimainkan oleh tokoh-tokoh tersebut. Akibat tekanan ekonomi yang sangat buruk pada waktu itu, dan pada akhirnya terhenti lagi. Kemudian pada tahun 1980, yaitu setelah Pemerintah menggali kesenian rakyat/tradisional dan menginventarisasi kesenian tradisional, oleh generasi muda kesenian Tradisional Nini Thowong dilestarikan dan diciptakan sesuai dengan keadaan jaman, maka bentuknya seperti yang ada sekarang ini. Instrumen gendhing-gendhingnya diselaraskan dengan keadaan sekarang.
Selengkapnya:https://googledrive.com/host/0B-QrcUmjrszNZ05sbWlLNXlTZzQ/beranda.html
Selengkapnya:https://googledrive.com/host/0B-QrcUmjrszNZ05sbWlLNXlTZzQ/beranda.html
Adapun tujuannya adalah:
- Pada waktu itu masyarakat haus akan hiburan sehingga ada keinginan untuk menciptakan hiburan sendiri pada masa habis kerja menanam padi diwaktu sore hari pada bulan purnama.
- Untuk memetri/melestarikan budaya kuno jangan sampai punah.
Kesenian Nini Thowong ini tidak ada sumbernya, jadi benar-benar diciptakan dari nenek Moyang kami sendiri. Untuk itu tidak ada ceriteranya/dongeng atau babadnya. Hanya dapat diketahui atau dilihat jalan permainannya.
Alat instrumen yang digunakan:
- Saron Demung : 1 buah
- Saron Penerus : 2 buah
- Kempul enam : 1 buah
- Suwukan : 1 buah
- Kendang :1 buah